
“Dekonstruksi konvensional; Mainstreamer” Bambu, kawat, bola plastik, sarung tangan, print kertas, pilox.(about) 160x90x70 cm. 2007. (Displayed on trotoar taman Jl. Cikapayang)
Wilayah residensi Dago kini telah menjadi salah satu pusat komoditi terbesar di Indonesia, khususnya di Bandung. Ada suatu survey yang membuktikan bahwa sepanjang jalan Dago merupakan salah satu jalan terkaya di Indonesia. Selain strategis bagi para kaum kapitalis, terdapat banyak pihak-pihak lain yang juga memanfaatkan wilayah Dago sebagai zona yang ber-prospek tinggi dari segi pendapatan finansial, diantaranya: mulai dari perusahaan nomaden (kendaraan jajan kuliner seperti “Coffee and Cigar”), publikasi berjalan (seperti stasiun radio swasta), hingga tim donatur musiman (biasanya dilakukan oleh mahasiswa pada waktu-waktu tertentu) serta para kaum tuna wisma (seperti pengamen). Singkatnya, perputaran finansial yang terjadi di wilayah Dago dianggap cepat dan besar, mengingat wilayah tersebut memiliki berbagai aktifitas yang padat dilakukan oleh masyarakat, baik dari dalam maupun luar Bandung.
Merujuk pada isyu tersebut, karya yang berupa instalasi lima buah figur manusia seukuran asli dari bambu yang sedang duduk di bangku ini menjadi suatu bentuk respon simulatif yang cukup dapat ditangkap oleh mata (eye-catching). Tangan yang menengadah menjadi simbol mencari uang; di satu sisi, menjadi simbolisasi harfiah atas para masyarakat kelas bawah seperti kaum tuna wisma dan juga pemaknaan yang lugas sebagai gambaran masyarakat kelas menengah yang secara langsung sering juga ikut turun ke jalan dalam mencari uang, seperti para mahasiswa misalnya. Di sisi lain, bagi masyarakat kelas atas, sekiranya karya ini menjadi gambaran atas pergerakan-pengibaran bendera perusahaan, seperti misalnya billboard dan neon-box reklame yang tujuan hasratnya sama, yaitu mencari uang. Kalung nametag pada leher menunjukkan identitas peranan skenario dari lima sosok manusia bernama Tommy Aditama Putra yang sedang mencari uang di bawah organisasi fund-raising bernama “Mainstreamer”. Kolom foto yang dikosongkan menandakan bahwa nama tersebut bisa menjadi individu siapapun yang peka (baca: latah) akan situasi sosial. Pemakaian kata dekonstruksi konvensional pada judul lebih mengarah pada segi teknis karya, yaitu pada rangka dasar figur manusia yang minimalis dan cenderung keluar dari batasan standar yang berlaku.
TERMS OF REFERENCES
Latar Belakang
Peralihan fungsi awalnya yang digunakan sebagai wilayah residensi, Dago, kini diakui telah menjadi salah satu pusatkomoditi terbesar di Indonesia, khususnya di Bandung. Ada suatu pandangan yang mengatakan bahwa, perkembangan pembangunan wilayah Dago hanya dalam waktu berapa tahun belakangan ini telah membawa predikat bahwa sepanjang jalan Dago merupakan salah satu jalan terkaya di Indonesia; terbilang dengan banyaknya pengusaha maupun investor yang membangun tempat perdagangan seperti Factory Outlet, café, restoran dan lain sebagainya.
Selain dari para kaum kapitalis tersebut, terdapat banyak pihak-pihak lain yang juga memanfaatkan wilayah Dago sebagai zona yang ber-prospek tinggi dari segi pendapatan finansial, diantaranya: mulai dari perusahaan nomaden (kendaraan jajan kuliner seperti “Coffee and Cigar”), publikasi berjalan (seperti stasiun radio swasta), hingga tim donatur musiman (biasanya dilakukan oleh mahasiswa pada waktu-waktu tertentu) serta para kaum tuna wisma (seperti pengamen).
Singkatnya, perputaran finansial yang terjadi di wilayah Dago dianggap cepat dan besar, mengingat wilayah tersebut memiliki berbagai aktifitas yang padat dilakukan oleh masyarakat, baik dari dalam maupun luar Bandung.
Gagasan Utama
Merujuk pada isyu yang tertulis di atas, saya ingin membuat suatu bentuk respon simulatif yang cukup dapat ditangkap oleh mata (eye-catching) sebagai pamaknaan bahwa sepanjang jalan Dago merupakan wilayah yang memiliki prospek tinggi dari pendapatan finasial.Eksekusi akhir karyanya yaitu membuat instalasi figur-figur manusia dari dari bambu dan kertas koran seukuran asli yang sedang duduk di bangku sembari menengadahkan tangannya sebagai simbol meminta uang, yang diletakkan di trotoar tengah-pembatas jalan satu arah; quantitas karyanya fleksibel.
Secara umum dalam menilai suatu golongan masyarakat terjadi suatu peng-kelas-an dari segi statusnya, seperti, masyarakat kelas atas, menengah dan masyarakat kelas bawah.
Simbol tangan yang menengadahkan tangan; di satu sisi, menjadi simbolisasi harfiah atas para masyarakat kelas bawah seperti kaum tuna wisma dan juga pemaknaan yang lugas sebagai gambaran masyarakat kelas menengah yang secara langsung sering juga ikut turun ke jalan dalam mencari uang, seperti para mahasiswa misalnya. Di sisi lain, bagi masyarakat kelas atas, sekiranya karya ini menjadi gambaran atas pergerakan-pengibaran bendera perusahaan, seperti misalnya billboard dan neon-box reklame; inti tujuannya sama, yaitu mencari uang.
Batasan Gagasan
Pada perencanaannya, saya akan meleburkan peng-kelas-an tersebut menjadi satu simbolisasi yang dapat mewakili semua golongan yang ada.
Maksud penyampaian gagasan difokuskan pada hasrat utama masyarakat dalam mencari uang.
Karya, Teknis Pengkaryaan dan Batasannya
Menggunakan bambu yang dibentuk menjadi kursi dan tubuh manusia sebagai rangka dasar.
Bambu tersebut kemudian dilapisi dengan gumpalan kertas koran yang dikeraskan dengan lem aci sampai membentuk badan manusia. Finishing¬-nya yaitu dengan dilumuri cat warna putih polos.
Bentukan tubuh manusia yang diinginkan tidak harus menyamai tubuh manusia secara sempurna, namun sekedar menjelaskan bahwa bentuk karya tersebut adalah manusia; figur-figur tersebut harus bisa ter-topang paling tidak untuk beberapa hari kedepan, sejauh tidak rusak oleh kondisi alam (seperti hujan) maupun masyarakat di sekitarnya.
Pertimbangan dan Kendala
- Gagasan karya tidak memiliki referensi yang cukup
- Visual karya tidak representatif terhadap batasan tematika dasarnya
- Fisik karya mengganggu masyarakat sekitar
- Karya mudah hancur oleh kondisi alam atau rusak / hilang oleh masyarakat sekitar
- Sweeping PEMDA / PEMKOT atau larangan memasang karya atas alasan mengotori ruang publik
Peralatan dan Perlengkapan
Bambu I Koran I Tepung aci I Cat putih I Kawat I Tang potong I Tang jepit I Palu I Paku I Panci + kompor I Sarung tangan I Golok + gergaji I Pilox merah I Pilox clear I Nametag holder I Print nametag I Kertas stensil
Gambar Rancangan
1. Rangka dasar
2. Rangka gestur


No comments:
Post a Comment